Pages

  • Twitter
  • Facebook
  • Google+
  • RSS Feed

Saturday, 20 May 2023

tugas ceramah

No comments:
 

 Assalamu'alaikum Warohmatullahi Wabarokatuh. Alhamdulillahirobbil 'Alaamiin , Assholatuwassalamu'ala Asyrofil Ambiyak iwal Mursalin Wa'ala Alihi Washohbihi Ajma'iinn. Ammaba'du.

Yang pertama-tama marilah kita bersyukur kepada Allah atas limpahan karunia sehingga saat ini kita masih diberi kesempatan untuk hidup dan mempersiapkan bekal untuk menghadapi kematian. Sholawat dan salam tetap tercurahkan kepada nabi agung nabi Muhammad SAW.


Menjadi pribadi yang pemaaf berarti memaafkan semua kesalahan orang lain pada dirinya, baik kesalahan tersebut berupa perbuatan seperti kekerasan dan kezaliman, maupun berupa perkataan seperti cacian dan fitnah.


sikap memaafkan lebih utama dari menahan amarah karena dengan memaafkan, berarti si pemaaf berlapang dada atas kesalahan atau keburukan yang telah diperbuat orang lain kepadanya, bahkan membalas keburukan tersebut dengan kebaikan, sebagaimana nilai-nilai yang diajarkan oleh Nabi Muhammad SAW.


Ibnu Katsir berkata  bahwa  orang  yang  mampu  memaafkan kesalahan orang lain bahkan membalasnya dengan kebaikan maka orang tersebut  adalah  orang  yang  memiliki  kesabaran, karena  membalas orang yang telah menyakiti kita dengan suatu kebaikan adalah hal yang berat bagi jiwa.


 Atas hal itu, memaafkan merupakan salah satu akhlak indah yang dengannya Allah akan melimpahkan rahmat dan ampunan- Nya.


Selain itu,  dengan memaafkan, jalinan dengan orang lain tidak akan memanas, bahkan dapat menghadirkan kesadaran dan keluluhan hati pada orang tersebut.



Rasulullah saw.  merupakan  contoh  terbaik  dalam pengimplementasian ajaran Islam yang mulia ini. Sebagai utusan Allah swt.  yang  membawa  kebenaran  Islam  di  tengah  ke-jahiliyah-an, Rasulullah saw.  senantiasa  mendapat  sikap  permusuhan  dari  kaum musyrik  karena  dianggap  mengancam  eksistentsi  keyakinan  mereka yang telah turun-temurun.


Awalnya,  kaum  musyrik  menghina  dan  menuduh  Nabi saw. seperti  menyebutnya  sebagai  orang  gila,  tukang  sihir,  dan  pendusta. Setelahnya,  sikap  mereka  semakin  keterlaluan  dengan  melakukan kecaman dan penindasan, seperti yang dilakukan oleh Abu Jahal.


Suatu hari, Abu Jahal melewati Rasulullah saw. di bukit Shafa. Ia lalu mengganggu dan  mencaci  makinya.  Rasulullah saw.  diam  saja, tidak  berbicara sedikitpun.


Kemudian  Abu  Jahal  memukul  kepala Rasulullah saw.  dengan  batu hingga melukainya  dan  mengalirkan darah. Namun, Rasulullah saw. sama sekali tidak membalas kekerasan yang  ditimpakan  kepadanya.  Justru  pamannya,  Hamzah bin Abdul Muthalib,  yang membalas  perlakukan  tersebut.  Setelahnya,  Hamzahpun  memeluk Islam.


Kisah  tersebut  menunjukkan  bagaimana  Rasulullah saw. merupakan sosok yang sabar dan pemaaf, meski ia mampu membalas. Bahkan,  semakin  banyak  gangguan yang  dihadapinya,  semakin bertambah  kesabaran  dan  kemurahan  hatinya.


dalam  hadis  riwayat  Imam  Bukhari,  Aisyah  ra.  berkata  bahwa Rasulullah saw.  tidak  membalas  seseorang  karena  kepentingan pribadi, tetapi karena  syariat  Allah  telah  ditentang  sehingga  ia membalasnya karena Allah.


Kesempurnaan  akhlak  dari  Rasulullah saw.  membuat  orang-orang menyukainya, bahkan mereka yang memusuhinya menaruh rasa hormat padanya. Karena itu, keteladanan tersebut sangat patut ditiru dan  diaplikasikan  dalam  kehidupan  bermasyarakat,  hingga permusuhan  dapat  diredam  dan  persaudaraan  dapat  dipererat. Dengannya, keridhaan dari Allah swt. dan manusia dapat diraih


Demikianlah yang dapat saya sampaikan, apabila ada kata yang kurang berkenan mohon dimaafkan. Wallahul muwafiq Ila Aqwamit thoriq. Wassalamu’alaikum Wr Wb.

No comments:

Post a Comment

 
© 2012. Design by Main-Blogger - Blogger Template and Blogging Stuff